Lucu, bukan?
Jujur, terkadang rasanya sangat kesal. Bahkan dulu sangat menyakitkan.
Tetapi lucunya, ketika aku mengingat kembali masa-masa itu, kejadian-kejadian buruk yang pernah menimpaku justru membuatku tertawa.
Beberapa hal yang kulewati akhir-akhir ini perlahan membuatku mulai mengerti tentang arti kehidupan. Aku mulai memahami tentang cinta, pertemanan, perselisihan, kehilangan, kebersamaan, dan begitu banyak hal lain mengenai hidup.
Dan... sedikit demi sedikit, aku mulai mengerti.
Aku tersenyum dan bertanya kepada Tuhan, mencoba membayangkan arti bintang di sisi bulan, arti matahari ketika senja dan fajar.
Perlahan, aku mencoba merangkai mimpi dari untaian kata-kata indah yang tercipta dari dalam sanubari. Layaknya fatamorgana yang begitu menakjubkan di mata, tetapi dapat menghilang hanya dalam sekejap.
Banyak hal dalam hidup yang memberikan dampak yang tak selalu terlihat. Bahkan terkadang, sesuatu yang sederhana mampu memberikan jutaan cahaya, entah buram ataupun begitu jelas di pelupuk mata. Kadang juga, ada sesuatu yang telah kita usahakan dengan susah payah, tetapi pada akhirnya tetap terasa sia-sia.
Memang terkadang mimpi tidak selamanya indah.
Kita berharap begitu tinggi, berusaha sekuat yang kita mampu, lalu pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat menjadi milik kita.
Aku pernah membayangkan, bagaimana jika isi dunia ini lenyap dan tak ada satu pun yang tersisa? Yang ada hanya kesunyian. Kehampaan. Semuanya terasa hambar dan begitu sepi. Bukankah itu akan terasa menyuramkan?
Menyenangkan memang ketika kita ingin sendiri dan tidak ada seorang pun yang mengganggu. Ada kalanya kesendirian memang terasa begitu nyaman. Namun, ada satu hal yang tak dapat dipungkiri... Walaupun itu adalah keinginan kita sendiri, kesendirian yang terlalu lama akan terasa dingin. Sepi. Sunyi. Hampa. Bahkan, sangat menyedihkan untuk melewatinya seorang diri.
Yah... sampai saat ini pun aku belum sepenuhnya memahami apa arti hidup yang sebenarnya. Namun, aku telah belajar banyak hal darinya..
Aku belajar bagaimana rasanya tersakiti.
Bagaimana rasanya kesepian.
Bagaimana rasanya diacuhkan.
Diremehkan.
Tidak dianggap.
Tetapi aku selalu ingin mengingat...bahwa,
Setelah kegelapan, mungkin akan selalu ada cahaya yang datang.
Mungkin awalnya hanya setitik cahaya. Namun, terkadang setitik cahaya jauh lebih berarti daripada jutaan cahaya yang datang sekaligus. Karena dari setitik cahaya itulah kita belajar untuk melihat.
Kita belajar mengerti.
Kita belajar memahami.
Kita belajar menghargai.
Dari semua rasa sakit yang pernah dirasakan, perlahan aku mengerti betapa berharganya rasa sayang, kehangatan, kebersamaan, cinta, kepedulian, kasih sayang, serta keberadaan orang-orang yang selama ini ada di sekitarku.
Tuhan tidak pernah bersikap sombong kepadaku. Pada dasarnya, mungkin akulah yang terkadang menciptakan perasaan itu sendiri. Betapa menyenangkannya untuk menganggap bahwa Tuhan sedang menganugerahkan sebuah keajaibannya kepada padaku Karena terkadang, rencana Tuhan memang jauh lebih indah daripada apa yang kuharapkan dan kubayangkan.
Aku mulai percaya,
Jika aku benar-benar percaya, mungkin suatu hari aku akan melihat keajaiban itu sendiri.
Saat aku mengelana dalam khayal yang terlunta-lunta, menjalani setiap seluk-beluk, lika-liku jalan kehidupan, mencari secercah harapan agar dapat terbang walau tanpa sayap. Aku terus berjuang demi mimpi, harapan, dan segala rasa yang perlahan muncul dari dalam palung jiwa. Berlari perlahan, mencoba meraih cahaya pelangi dengan segala warna-warni kehidupan.
Dan sungguh...Rasanya mungkin begitu lepas.
Terasa bebas.
Seperti ketika sedang menghela napas panjang, lalu membuang semua beban yang selama ini terasa begitu berat. Beban itu perlahan memudar dengan sendirinya, seakan-akan ikut terbang bersama kupu-kupu yang bebas mengitari indahnya taburan bunga. Terbang bersama burung-burung yang berkicau merdu di pagi hari, melintasi gumpalan awan putih yang lembut, seperti gula-gula di langit.
Tersenyum lebar.
Tertawa lepas.
Menikmati kebahagiaan yang seolah tak ada habisnya. Bahkan ketika menangis...
Air mata itu pun terasa seperti air mata kebahagiaan.
Bandingkan dengan berjalan tanpa alas kaki di atas hamparan mawar. Dari kejauhan, semuanya tampak begitu indah. Namun ketika dilalui, duri-durinya menusuk kaki dan meninggalkan luka.
Bukankah itu menyakitkan? Yah... hidup terkadang memang seperti itu.
Hanya saja, mungkin itu berlaku bagi mereka yang memilih untuk melihatnya seperti itu. Karena aku memilih untuk melihatnya dengan cara yang berbeda. Sekarang, seperti itu..
Dulu, sebelum aku sedikit memahami arti hidup, kehidupanku memang terasa seperti hamparan mawar berduri. Aku berusaha keras untuk bahagia, meskipun hatiku terus merasa tertekan. Aku menipu diriku sendiri.
Berusaha tersenyum.
Berusaha bahagia.
Namun aku tidak pernah benar-benar melepaskan tali yang mengikat kebahagiaan dan kebebasan di dalam diriku. Dan ternyata...
Itu adalah hal bodoh yang sia-sia.
Kemudian aku menyadari... Apa salahnya membuang semua rasa sakit yang ada di dalam diriku? Memang tidak semudah mengucapkan kata-kata. Namun, bukankah mengikhlaskan semuanya dan membebaskan diri demi kebahagiaan jauh lebih baik daripada terus-menerus terkurung?
Terus berputar di dalam lingkaran kehidupan yang menyakitkan, melewatinya dengan perasaan suram dan penuh ketakutan..
Rasanya jauh lebih menyeramkan.
Maka aku memilih untuk melepaskannya.
Bukan karena semuanya tidak berarti. Tetapi karena aku ingin terus berjalan.
Aku mengerti bahwa...
Terkadang, mimpi memang tidak harus menjadi nyata. Mimpi hanyalah sesuatu yang membuat kita terus memiliki alasan untuk melangkah. Mimpi adalah penyemangat untuk terus maju.
Maka aku tidak takut lagi untuk bermimpi. Tak ingin lagi membatasi mimpiku. Memberikan harapan kepada setiap mimpi yang ku miliki. Karena aku mulai mengerti bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidupku, setiap orang yang hadir, dan setiap mereka yang pernah berdiri di sisiku... semuanya memiliki arti.
Sekarang aku mulai sedikit memahami arti kehidupan. Bahwa arti kehidupan tidak selalu bisa kita mengerti melalui cerita orang lain. Ada hal-hal yang hanya bisa kita pahami setelah kita melewatinya sendiri.
Kita harus merasakannya sendiri.
Menangis karenanya.
Tersenyum karenanya.
Jatuh.
Bangkit.
Lalu kembali berjalan.
Mungkin karena itulah banyak orang mengatakan bahwa hidup berawal dari mimpi. Dari sebuah mimpi lahirlah harapan, dari harapan lahirlah keberanian.. dan dari keberanian, kita mulai melangkah untuk menemukan arti hidup yang sesungguhnya.
Maka dari itu...Aku memilih untuk terus bermimpi.
Aku bermimpi bahwa hari esok, dan hari-hari setelahnya, akan menjadi hari-hari di mana Tuhan selalu menghadirkan keajaiban dalam hidupku.
Untuk hidupku.
Untuk mimpiku.
Untuk harapanku.
Dan jika suatu hari aku kembali terjatuh, aku ingin mengingat satu hal:
Aku pernah bermimpi untuk terbang.
Dan aku akan terus belajar...untuk terbang bebas, walau tanpa sayap.

0 comments:
Post a Comment
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda ;
Komentar tidak boleh mengandung unsur SARA, pelecehan atau kata-kata kotor :) Terima Kasih