Aku tidak tahu seperti apa wajahmu ketika tersenyum, bagaimana matamu berbinar ketika bahagia, atau seperti apa langit di dalam tatapanmu ketika kesedihan datang.
Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya duduk di sampingmu, berjalan beriringan denganmu, atau sekadar mendengar suaramu tanpa perantara jarak.
Namun anehnya...
Aku merasa mengenalmu dari sesuatu yang jauh lebih sederhana..
Sesuatu yang tak dapat kusentuh, tetapi entah bagaimana mampu sampai begitu jauh kedalam diriku.
Bahkan ketika aku mungkin menyebalkan, keras kepala, atau mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan, kau tetap memilih kelembutan seolah amarah tidak pernah benar-benar menemukan jalan untuk tinggal di dalam dirimu.
Mungkin kau memang mudah ngambek.
Kadang, hal-hal kecil bisa membuatmu kesal, membuatmu diam dan menarik diri beberapa langkah, seolah ingin bersembunyi sebentar dibalik dinding kecil yang kau bangun dari rasa kesal.
Aku tidak pernah benar-benar mampu melihatmu sebagai seseorang yang bisa marah.
Ada kelembutan yang tetap tinggal di dalam dirimu, bahkan ketika sedang kecewa.
Mungkin karena itulah, tanpa pernah kusadari, aku mulai jatuh hati pada sesuatu yang bahkan tidak bisa kulihat..
Bukan wajahmu.
Bukan penampilanmu.
Bukan sesuatu yang dapat disentuh..
Melainkan pada sesuatu yang jauh lebih dalam..
Kepribadianmu.
Aku jatuh hati pada caramu memperlakukan seseorang dengan penuh kasih.
Pada caramu membuat seseorang merasa didengar, seolah setiap cerita memiliki tempat untuk berlabuh..
Pada caramu memberikan ketenangan tanpa pernah menyadari kehadiranmu sendiri adalah ketenangan itu.
Lucu rasanya...
Bagaimana mungkin seseorang yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya dapat tumbuh begitu jauh di dalam ingatan?
Bagaimana mungkin seseorang yang hanya kukenal melalui kata-kata mampu meninggalkan jejak sedalam itu dalam perjalanan hidupku?
Namun mungkin memang begitulah beberapa pertemuan bekerja.
Tidak selalu datang dengan cara yang bisa kita mengerti.
Tidak selalu membutuhkan tatapan mata atau genggaman tangan.
Terkadang seseorang hadir hanya melalui kata-kata, lalu perlahan, tanpa kita sadari, kata-kata itu menemukan tempatnya sendiri di dalam hati..
Tanpa terasa, kehadiranmu bukan lagi sekedar kata-kata.
Kau telah menjadi bagian dari hari-hariku..
Menemani pagi yang terburu-buru, siang yang terasa panjang, hingga malam yang perlahan menutup matanya di bawah langit yang sunyi.
Kita bisa berada dalam satu sambungan berjam-jam, bahkan hampir seperti tidak mengenal waktu..
Dua kehidupan, dua dunia, dipisahkan jarak tetapi dipertemukan oleh satu ruang kecil yang kita bagi bersama.
Tidak selalu ada percakapan.
Kadang, kita hanya diam.
Kau dengan duniamu, aku dengan duniaku.
Membiarkan waktu mengalir begitu saja diantara kita..
Seperti sungai yang tak perlu tahu kemana akhirnya akan bermuara..
Namun anehnya, diam bersamamu tidak pernah menjelma menjadi sepi.
Sebab kau adalah hadir yang tak selalu terlihat, tetapi selalu terasa.
Dan mungkin, ada sesuatu yang begitu indah dari mengetahui bahwa diujung sana, dibalik jarak yang tak dapat kutembus, kau masih ada..
Suaramu menjadi irama kecil yang menuntun malam melewati sunyinya,
Keberadaanmu menjadi cahaya kecil yang membuat gelap kehilangan sebagian pekatnya.
Ada malam ketika kita berbicara begitu banyak.
Ada malam ketika hanya ada beberapa kata.
dan ada malam ketika hampir seluruhnya hanya diam sampai terlelap..
Seolah jarak sedang belajar untuk tidak terasa jauh.
Dibalik kelembutanmu itu, ada sisi lain darimu yang kusukai..
Sisi manjamu yang terkadang menyebalkan, tetapi entah bagaimana selalu berhasil mencuri senyumku.
Tingkah-tingkah konyolmu yang kadang begitu di luar nalar hingga tawa hanya bisa keluar bersama gelengan kepala.
Kadang kau begitu lembut hingga membuat hatiku teduh.
Kadang kau begitu manja hingga membuatku ingin terus berada di sana.
Dan kadang kau begitu konyol hingga hari yang semula terasa berat mendadak memiliki sedikit warna.
"Kau adalah teduh sekaligus riuh.
Tenang sekaligus ceria.
Peluk yang tak bisa kurasakan, tetapi hangatnya tetap sampai."
Kita menitipkan keberadaan diantara jeda-jeda, membiarkan keheningan menjadi bahasa yang tak membutuhkan kamus untuk dipahami.
Tanpa di sadari, sambungan sederhana itu perlahan menjadi benang halus yang menjahit hari-hari kita menjadi sesuatu yang terasa utuh.
Kau tidak selalu mengisi hariku dengan suara.
Tapi entah bagaimana..
Kau selalu menemukan celah untuk mengisi sunyinya.
Kau mengajarkanku banyak hal..
Tentang kesabaran,
Tentang kelembutan,
Tentang memaafkan,
Tentang menghargai,
Tentang kasih sayang,
Tentang bagaimana berbicara tanpa harus menyakiti,
Dan mungkin juga...
Tentang bagaimana seseorang bisa terasa dekat, bahkan ketika jarak menjadikannya jauh dari jangkauan tangan.
Mungkin bagimu, percakapan kita hanyalah percakapan biasa..
Mungkin kata-kata yang kau ucapkan hanya berlalu begitu saja setelah kau mengatakannya..
Namun bagiku, beberapa di antaranya tinggal lebih lama..
Ada kata-kata yang tetap tinggal di kepalaku ketika hari-hari terasa berat..
Seperti lentera kecil yang kutemukan ketika jalan di depanku mulai kehilangan cahaya.
Ada percakapan yang bahkan setelah selesai, masih meninggalkan sisa senyum di wajahku.
Dan ada kehadiranmu yang, meskipun sederhana, pernah membuat dunia seperti musim dingin yang menemukan secangkir coklat hangat untuk dipeluk.
Karena ternyata, manusia tidak selalu membutuhkan seseorang yang berada tepat di sampingnya untuk merasa ditemani.
Ada satu kalimat darimu yang selalu tertinggal dihatiku..
Seperti sebuah pintu yang tak benar-benar tertutup..
"Jangan merasa sendiri, aku selalu disini".
Mungkin kau takkan pernah menyangka bahwa beberapa kata sederhana itu mampu tumbuh dan bersemi di dalam hatiku..
Sederhana.
Hanya beberapa kata.
Mungkin bagi sebagian orang,
Ada kata-kata yang hanya berhembus seperti angin, singgah sebentar lalu hilang bersama waktu.
Ada pula kata-kata yang memilih berakar diam-diam di hati, tumbuh perlahan menjadi cahaya kecil ketika dunia terasa terlalu sunyi.
Kita memang tidak membutuhkan sesuatu yang besar untuk merasa sedikit lebih kuat.
Hanya kalimat seperti "Aku ada di sini".
Dan kau pernah menjadi seseorang itu.
Terkadang kita hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, seseorang yang berbicara dengan lembut, seseorang yang tidak membuat kita merasa sendirian. Seseorang yang bahkan tidak pernah memeluk kita, tetapi kata-katanya terasa seperti pelukan.
Dan mungkin... kaulah salah satunya.
Ada masa-masa ketika hidup terasa begitu melelahkan,
Ketika aku merasa seperti sedang berjalan di jalan panjang tanpa benar-benar tahu ke mana langkah ini seharusnya menuju.
Hari-hari ketika aku merasa terombang-ambing oleh begitu banyak hal, seperti perahu kecil yang kehilangan bintang untuk dijadikan petunjuk arah di tengah lautan.
Aku mungkin tetap berjalan, tetap tersenyum, tetap menjalani hari seperti biasa.
Namun di dalam diriku, ada bagian yang sering kali merasa lelah.
Lelah mencari tempat untuk beristirahat.
Lelah mencoba menemukan sesuatu yang membuatku merasa aman.
Dan di antara hari-hari seperti itu, entah bagaimana, kehadiranmu menjadi salah satu dermaga kecil tempat aku ingin menambatkan lelah, meski hanya sebentar.
...
Bukan karena kau menyelesaikan semua masalahku.
Bukan karena kau selalu memiliki jawaban atas segala hal.
Tetapi karena bersamamu, meskipun hanya melalui kata-kata, aku pernah merasa bahwa aku tidak harus selalu menjadi seseorang yang kuat.
Aku bisa menjadi diriku sendiri.
Aku bisa bercerita.
Aku bisa diam.
Aku bisa menjadi seseorang yang sedang lelah tanpa merasa harus menjelaskan mengapa.
Mungkin itulah arti sebuah tempat untuk pulang bagiku..
bukan tentang sebuah alamat, melainkan tentang hati yang akhirnya menemukan tempat untuk meletakkan lelahnya.
Seseorang yang membuat langkah yang sempat kehilangan arah kembali menemukan jalan, meski hanya untuk beberapa langkah.
Seseorang yang membuatku merasa, “Tidak apa-apa. Untuk sementara, aku boleh berhenti di sini.”
Dan tanpa pernah kau sadari... kau telah menjadi tempat pulang seperti itu bagiku.
Tempat kecil yang bahkan tidak pernah benar-benar kumiliki itu, tetapi entah bagaimana mampu menghadirkan ketenangan yang selama ini kucari.
Tempat yang tak pernah bisa kudatangi dengan langkah kaki, tetapi selalu bisa kutemukan di antara kata-katamu.
Mungkin terdengar sederhana,
Namun bagi seseorang yang sering merasa lelah dan kehilangan arah, menemukan tempat untuk berhenti walau hanya sebentar adalah keberuntungan yang rasanya terlalu indah untuk disebut kebetulan.
Dan mungkin, di sanalah aku mulai mengerti mengapa namamu terasa begitu tepat untuk kisah ini "Lucky".
Selamat ulang tahun,
Lucky.
Sebuah nama yang mungkin hanya panggilan bagi dunia, tetapi bagiku terasa seperti sebuah pengingat tentang keberuntungan yang pernah hadir dalam hidupku.
Karena terkadang aku berpikir,
Mungkin keberuntungan memang tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang bisa kita genggam dan kita miliki.
Terkadang, keberuntungan datang dalam bentuk seseorang yang tiba-tiba hadir dalam hidup kita, lalu tanpa sadar meninggalkan begitu banyak hal yang membuat kita tumbuh dan berubah.
Keberuntunganku adalah pernah dipertemukan denganmu.
Dari begitu banyak manusia yang mungkin saja melintas dalam perjalanan hidupku...entah mengapa, aku dipertemukan denganmu.
Dan bukankah itu sendiri sudah menjadi sebuah keberuntungan?
Lucky,
Aku tidak tahu bagaimana perjalanan hidupmu setelah ini.
Aku tidak tahu apa yang akan kau temui di usia dua puluh lima dan setelahnya.
...
Mungkin akan ada hari-hari yang membahagiakan.
Mungkin juga akan ada hari-hari yang membuatmu lelah.
Mungkin akan ada sesuatu yang berhasil kau raih.
Mungkin juga ada sesuatu yang harus kau lepaskan.
Namun, untuk ulang tahunmu kali ini, aku hanya ingin mendoakan..
Lucky,
Semoga hidup memperlakukanmu selembut caramu memperlakukan orang lain.
Semoga ketika langkahmu kehilangan arah, selalu ada jalan yang perlahan terbuka di hadapanmu.
Semoga ketika dunia terasa terlalu berat di pundakmu, selalu ada sesuatu yang membuatmu kembali menemukan alasan untuk tersenyum.
Semoga segala yang kau perjuangkan perlahan menemukan jalannya menuju keberhasilan yang selama ini kau harapkan.
Dan jika suatu hari kau merasa tidak memiliki tempat untuk pulang...
Semoga selalu ada seseorang, sesuatu, atau sebuah tempat yang menjadi teduh ketika hatimu terlalu lelah untuk berteduh pada dirinya sendiri.
Karena bagiku, kau pernah menjadi tempat seperti itu..
Bukan rumah yang memiliki pintu dan jendela.
Bukan tempat yang dapat ditemukan dengan langkah kaki.
Melainkan teduh yang tumbuh diam-diam di dalam hati...
Seperti pohon yang tak pernah kita tanam, tetapi tiba-tiba tumbuh dan memberi tempat untuk berteduh.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti kita benar-benar akan bertemu..
Mungkin iya.
Mungkin belum.
Mungkin juga tidak.
Aku tidak tahu apa yang Tuhan rencanakan setelah semua hari yang sedang kita jalani ini.
Aku tidak tahu apakah kebersamaan ini kelak hanya akan menjadi satu bab indah dari perjalanan hidup, atau justru menjadi awal dari cerita yang halaman-halamannya masih panjang.
Aku tidak ingin mendahului takdir.
Tidak ingin memaksa sebuah cerita untuk memiliki akhir yang belum waktunya dituliskan.
Aku hanya ingin menjalani apa yang Tuhan berikan hari ini.
Menikmati setiap percakapan.
Setiap tawa.
Setiap malam ketika kita saling menemani sampai terlelap.
Namun, jika pada akhirnya nanti Tuhan memang merencanakan sesuatu untuk kita..
Aku hanya ingin menitipkan satu harapan kecil kepada-Nya.
Semoga sesuatu itu indah.
Jika suatu hari jalan kita membawa kita lebih jauh dari tempat kita berdiri hari ini, semoga langkahmu masih menemukan langkahku di sepanjang perjalanan itu.
Namun jika suatu hari Tuhan mengubah arah cerita kita.. jangan kecewa atau bersedih..
Mungkin Tuhan sedang menulis sesuatu yang lebih indah di halaman yang belum mampu kita baca..
Karena tidak semua orang yang berarti bagi kita harus tinggal selamanya.
Ada orang-orang yang mungkin hanya singgah sebentar dalam perjalanan hidup, tetapi jejak yang mereka tinggalkan mampu kita bawa jauh setelah langkah mereka tak lagi berjalan bersama kita.
Sebuah pelajaran.
Sebuah kenangan.
Sebuah rasa hangat.
Namun sekarang, untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menulis kemungkinan kita tidak akan pernah bertemu..
Karena kau masih disini.
Kau masih menjadi suara diujung malamku
Masih menjadi seseorang yang mampu menarik senyumku keluar hanya dengan tingkah kecilmu.
Jadi, di usiamu yang ke-25 ini..
Terima kasih karena sudah hadir.
Terima kasih karena sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.
Terima kasih karena tanpa pernah berniat menjadi guru, kau telah menjadi salah satu pelajaran paling lembut yang pernah diberikan hidup kepadaku.
Dan terima kasih karena tanpa pernah meminta apa pun, kau telah meninggalkan begitu banyak kehangatan di tempat-tempat dalam diriku yang pernah terasa dingin.
Aku tidak tahu apakah kata-kata ini akan berarti bagimu.
Namun aku berharap, ketika suatu hari nanti kau membacanya kembali, kau akan tersenyum dan tahu bahwa...
”Pernah ada seseorang yang begitu bersyukur karena pernah mengenalmu.”
Selamat ulang tahun yang ke-25.
Semoga tahun-tahun setelah ini datang membawa lebih banyak kebahagiaan, lebih banyak cahaya, mimpi-mimpi yang perlahan menemukan bentuknya, dan alasan-alasan kecil yang membuatmu ingin terus tersenyum.
Dan jika kehidupan suatu hari membuatmu lupa betapa berharganya dirimu..
Semoga tulisan kecil ini menjadi cermin kecil yang mengingatkanmu kembali.
Bahwa di suatu tempat, pernah ada seseorang yang jatuh hati bukan pada wajah yang tak pernah dilihatnya, melainkan pada hati dan kepribadianmu yang begitu penuh kasih.
Lucky adalah nama dari sebuah keberuntungan yang tidak pernah kusangka akan kutemukan.
Seseorang yang tidak pernah kulihat wajahnya, tetapi melalui kata-katanya perlahan mengajarkanku mengenal begitu banyak sisi kehidupan.
Seseorang yang tidak pernah menggenggam tanganku, tetapi kata-katanya pernah menjadi pegangan ketika beberapa langkah terasa begitu berat.
Seseorang yang tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari dunia yang dapat kusentuh, tetapi entah bagaimana telah menemukan tempatnya sendiri di dunia yang bersemayam di dalam hatiku.
Dan jika pertemuan kita memang hanya sebuah kebetulan... maka aku ingin berterima kasih kepada Tuhan karena pernah mempertemukan jalan kita di persimpangan yang sama.
Karena dari begitu banyak jalan yang mungkin kulewati, takdir justru membawaku ke jalan yang mempertemukanku denganmu.
Mungkin memang benar, namamu adalah sebuah pengingat kecil tentang satu hal yang sering dilupakan manusia.
Bahwa terkadang, keberuntungan bukan tentang seberapa banyak hal yang berhasil kita genggam.
Melainkan tentang siapa yang Tuhan izinkan singgah, lalu meninggalkan cahaya di sepanjang perjalanan kita.
Dan untuk itu...
aku merasa cukup beruntung karena pernah mengenalmu.
Jadi, di usiamu yang ke-25 ini, aku hanya ingin memberikan sebuah hadiah kecil--bukan sesuatu yang dapat dibungkus, melainkan sesuatu yang lahir dari kata-kata dan kutitipkan di antara halaman ini.
Mungkin tidak seberapa.
Namun setiap katanya kutulis dengan ketulusan yang mungkin tak cukup terlihat, tetapi semoga dapat terasa.
Terima kasih sudah hadir dalam hidupku.
Terima kasih telah menjadi salah satu keberuntungan yang tidak pernah kucari, tetapi justru kutemukan di perjalanan.
Semoga di usia yang baru ini, keberuntungan selalu tahu jalan menuju kepadamu, bahkan ketika kau sedang tidak mencarinya.
Semoga hidupmu dipenuhi lebih banyak kebahagiaan, cinta yang tulus, hal-hal baik yang datang tanpa disangka, serta alasan-alasan kecil yang membuat senyum tetap tinggal di wajahmu.
Selamat ulang tahun yang ke-25, Lucky
Untukmu, yang menjadi rumah bagi lelahku,
tempat bagi diamku,
teduh bagi hatiku,
dan pada akhirnya—
untukmu, yang menjadi tempat untuk pulang.
1 comments:
I am the luckiest person to be by your side and watch you create such amazing things. 🌹✨
Post a Comment
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda ;
Komentar tidak boleh mengandung unsur SARA, pelecehan atau kata-kata kotor :) Terima Kasih