Aku Tertelan
Ya Tuhan…
Aku tertelan.
Entah oleh apa..
Sesuatu yang begitu besar, begitu gelap, perlahan menelanku hidup-hidup.
Atau…
jangan-jangan aku memang sudah tertelan?Di sini begitu gelap.
Gelap yang tidak hanya memenuhi pandangan, tetapi juga seolah menyusup ke dalam tubuhku, merayap perlahan ke setiap sudut jiwa.
Aku tidak bisa melihat apa pun.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada arah.
Tidak ada suara.
Hanya kegelapan.
Dan aku… sendirian di dalamnya.
Aku mencoba bergerak, tetapi tubuhku terasa begitu berat. Seolah ada sesuatu yang mencengkeramku dari segala arah.
Ia menelanku.
Kegelapan ini menelanku.
Sedikit demi sedikit, ia menggerogoti tubuhku, mengunyah ketakutanku, memakan harapanku.
Aku merasa sesuatu di dalam diriku mulai menghitam.
Dadaku sesak.
Perutku mual.
Aku ingin muntah, tetapi bahkan untuk bernapas saja rasanya begitu sulit.
Tolong…
Seseorang…
Siapa pun…
Tolong aku.
Adakah seseorang di luar sana?
Aku mengulurkan tangan ke dalam kegelapan, meraba-raba sesuatu yang bahkan tak bisa kulihat.
Aku berharap ada tangan lain yang menyambutnya.
Tangan yang menarikku keluar.
Tangan yang mengatakan bahwa aku masih bisa diselamatkan.
Namun…
Tidak ada apa-apa.
Tanganku hanya menggantung di udara kosong.
Ya Tuhan… aku takut.
Apakah ini hukuman untuk semua dosa-dosaku?
Aku terlalu banyak berdosa.
Terlalu sering melakukan kesalahan.
Terlalu banyak hal yang kusesali.
Apakah aku sudah tidak pantas untuk dimaafkan?
Apakah bahkan Tuhan sudah meninggalkanku?
Tidak…
Jangan.
Aku tidak ingin sendirian di sini.
Tubuhku mulai menggigil.
Tanganku bergetar.
Napas terasa semakin pendek.
Ada sesuatu yang bergolak di dalam diriku—sesuatu yang ingin keluar, sesuatu yang ingin berteriak, tetapi aku bahkan tidak tahu harus berteriak kepada siapa.
Aku terjebak.
Apakah aku akan mati di sini?
Aku kembali menatap sekeliling.
Namun kegelapan tetap sama.
Pekat.
Dingin.
Tak berujung.
Aku bahkan tidak tahu apakah mataku masih terbuka.
Aku tidak bisa melihat apa pun.
Tidak bisa merasakan apa pun…
Selain tubuhku sendiri yang perlahan kehilangan kekuatannya.
Apakah ada seseorang di sini?
Tidak ada jawaban.
Aku mulai merasa hancur.
Aku depresi.
Aku frustrasi.
Aku merasa pikiranku perlahan kehilangan kendali.
Aku ingin semuanya berakhir.
Aku ingin keluar.
Aku ingin bernapas tanpa rasa takut.
Aku hanya membutuhkan sedikit cahaya.
Sedikit saja.
Setitik pun cukup.
Tolong… bawakan aku cahaya.
Aku mohon.
Satu titik cahaya saja…
Namun kegelapan tetap menelanku.
Aku memejamkan mata.
Atau mungkin… sejak awal mataku memang sudah tertutup.
Tubuhku semakin lemas.
Aku semakin lelah.
Aku sudah tidak mampu melawan.
Tidak mampu berteriak.
Tidak mampu mengulurkan tangan lagi.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku berhenti berharap.
Tidak.
Tidak…
Tidak!
Bukan karena aku berhasil melawan.
Tetapi karena…
sesungguhnya aku sudah menyerah.
Aku sudah terlalu lelah.
Terlalu lama bertahan.
Aku tidak sanggup lagi.
Aku pasrah.
Biarlah kegelapan ini mengambilku.
Biarlah semuanya berakhir—
UGH!
Tiba-tiba sesuatu menyentak tubuhku!
Aku tersentak keras.
Mataku terbelalak.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Cahaya.
Ada cahaya.
Untuk pertama kalinya, aku bisa melihat sesuatu.
Aku menatap sekeliling dengan napas terengah-engah.
Langit-langit.
Dinding.
Kamarku.
Tanganku sendiri.
Aku masih di sini.
Aku masih hidup.
Aku…
bermimpi?
Dadaku masih naik turun dengan cepat.
Keringat dingin membasahi tubuhku.
Aku menatap sudut-sudut ruangan yang gelap.
Kegelapan itu sudah tidak ada.
Namun entah mengapa…
rasanya masih terasa begitu dekat.
Seolah ia masih menungguku di suatu tempat.
Menunggu sampai aku memejamkan mata lagi.
Aku menarik selimut hingga menutupi tubuhku.
Aku takut.
Takut untuk kembali tidur.
Takut jika ketika mataku terpejam…
aku akan kembali ke sana.
Ke tempat tanpa cahaya.
Ke tempat tanpa suara.
Ke tempat di mana tidak ada seorang pun yang datang menyelamatkanku.
Dan malam itu…
aku hanya bisa berbisik pelan,
“Ya Tuhan… jangan biarkan aku tertelan lagi.”

0 comments:
Post a Comment
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda ;
Komentar tidak boleh mengandung unsur SARA, pelecehan atau kata-kata kotor :) Terima Kasih