Sunday, 15 March 2020

Venus, Sang Bintang Yang Bukan Bintang✶

By Cyuppy at 3/15/2020 04:09:00 pm

Hai, langit.

Malam ini terasa indah.

Ada satu cahaya yang mencuri pandanganku dari sekian banyak titik yang bertaburan di hamparan langit. 

Venus, sang bintang yang bukan bintang.

Ia menggantung jauh di sana, sendirian di antara gelap, namun cahayanya seolah tahu bagaimana caranya membuat seseorang berhenti sejenak dan menengadah.

Hari ini aku menatap langit malam, terasa damai.

Entah mengapa, malam ini langit seperti sedang membentangkan selimut gelapnya untukku. 

Tidak meminta apa-apa, tidak menanyakan apa yang terjadi sepanjang hari. 

Ia hanya diam, membiarkanku duduk di bawahnya dan mengistirahatkan hati yang sudah terlalu lama berjalan.

Hari ini aku benar-benar ingin beristirahat sejenak. Melepaskan penat yang menempel seperti bayang-bayang, dan menurunkan beban dari pundakku meski hanya untuk beberapa saat.

Tak ada kegaduhan malam ini.

Hanya sunyi yang berjalan pelan di antara udara, menyentuh jendela dan menyelinap masuk ke dalam ruanganku. Anehnya, kesunyian kali ini tidak terasa seperti kesepian. Ia justru seperti tangan yang mengusap kepala seseorang yang terlalu lelah untuk bercerita.

Aku menyukainya.

Mungkin lebih indah daripada malam-malam yang pernah kulewati sebelumnya. Bukan karena langitnya lebih cerah, bukan karena bintangnya lebih banyak, tetapi karena malam ini aku tidak merasa harus menjadi apa-apa.

Aku hanya perlu menjadi aku.

Kenapa?

Mungkin karena suasananya. Karena nuansanya. Bahkan karena aroma malam yang terasa berbeda—dingin, samar, dan menenangkan, seperti halaman lama dari sebuah buku yang pernah kubaca ketika hidup belum terasa serumit sekarang.

Udara malam seperti membawa pergi sebagian kecil dari lelah yang selama ini kusimpan.

Seolah-olah angin tahu bahwa ada terlalu banyak hal yang tidak sanggup kuucapkan, lalu memilih membawanya pergi tanpa pernah bertanya.

Aku sudah cukup lelah dengan segalanya.

Lelah menjadi seseorang yang terus berjalan meski tidak selalu tahu ke mana harus pergi. Lelah memungut kembali serpihan-serpihan diri sendiri setiap kali sesuatu di dalam hati terasa runtuh.

Dan malam ini, langit memberiku sedikit waktu untuk berhenti.

Untuk meletakkan semua yang berat.

Untuk membiarkan hati yang selama ini berisik akhirnya berbisik.

Terima kasih, malam yang sangat nyaman.

Terima kasih karena malam ini tidak memaksaku untuk baik-baik saja.

Ia hanya memelukku dengan gelapnya, membiarkan aku menjadi seseorang yang lelah tanpa harus merasa bersalah karenanya.

Apa yang kulakukan?

Tak ada.

Aku hanya menikmatinya.

Melihat langit.

Menghirup aroma malam.

Mendengarkan keheningan yang mengalir perlahan di antara detik-detik yang berjalan.

Dan tentu saja, melihat Venus.

Aku tidak tahu mengapa mataku selalu kembali kepadanya.

Mungkin karena ia begitu terang.

Atau mungkin karena aku ingin sekali menjadi seperti dirinya.

Venus, sang bintang yang bukan bintang.

Lucu rasanya.

Sesuatu yang bahkan bukan bintang mampu terlihat begitu indah di antara gelapnya langit.

Sementara aku...

Sering kali merasa bahkan tidak lebih berarti daripada titik kecil yang nyaris tak terlihat.

Aku pernah memandang diriku sendiri seperti langit yang kehilangan cahaya—luas, tetapi kosong; ada, tetapi seolah tidak benar-benar berarti.

Aku melihat begitu banyak hal di dunia ini memiliki tempatnya masing-masing.

Bintang memiliki langit.

Bulan memiliki malam.

Bunga memiliki musim untuk mekar.

Lalu aku?

Kadang aku bertanya-tanya, aku memiliki apa?

Apa gunanya keberadaanku jika aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi cahaya bagi diriku sendiri?

Namun malam ini, ketika melihat Venus, ada sesuatu yang ingin kupercaya.

Aku ingin sekali menjadi Venus.

Bukan karena ingin menjadi yang paling terang.

Bukan karena ingin seluruh dunia melihatku.

Aku hanya ingin menjadi sesuatu yang memiliki cahaya.

Sesuatu yang ketika seseorang melihatnya, ia tidak merasa sedang melihat sesuatu yang sia-sia.

Aku ingin memiliki sedikit arti.

Sedikit saja.

Seperti Venus yang tidak perlu memenuhi seluruh langit untuk membuat seseorang menengadah.

Mungkin aku juga tidak perlu menjadi seseorang yang luar biasa untuk memiliki arti.

Mungkin aku hanya perlu menemukan satu cahaya kecil di dalam diriku sendiri.

Meski kecil.

Meski redup.

Meski terkadang hampir padam.

Karena bahkan cahaya yang paling kecil pun tetaplah cahaya ketika dikelilingi gelap.

Dan malam ini, aku masih belum menjadi Venus.

Aku masih menjadi diriku sendiri.

Seseorang yang terkadang merasa terlalu kecil untuk dunia yang begitu luas.

Seseorang yang masih mencari alasan untuk percaya bahwa keberadaannya berarti.

Tetapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku ingin menatap Venus sedikit lebih lama.

Bukan hanya karena ia indah.

Melainkan karena aku ingin mengingatnya.

Aku ingin mengingat bagaimana sesuatu yang jauh di sana mampu membuat gelap terasa tidak sepenuhnya gelap.

Dan mungkin...

Suatu hari nanti, aku ingin menjadi seperti itu.

Bukan cahaya yang menerangi seluruh dunia.

Cukup menjadi satu cahaya kecil yang mampu menerangi satu sudut gelap dalam diriku sendiri.

Venus, sang bintang yang bukan bintang.

Mungkin suatu hari nanti, aku akan menemukan cahayaku sendiri.

Dan ketika hari itu tiba, semoga aku tidak lagi melihat diriku sebagai sesuatu yang tidak berarti.

Semoga aku bisa menengadah ke langit dan berkata,

“Ah... ternyata aku juga pernah menjadi gelap.
Tapi lihatlah, aku akhirnya menemukan sedikit cahaya.”

0 comments:

Post a Comment

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda ;
Komentar tidak boleh mengandung unsur SARA, pelecehan atau kata-kata kotor :) Terima Kasih

 

Here I Am πŸ’• After Everything I’ve Been Through, Still Choosing To Believe That Better Days Are Waiting For Me.πŸ–€